Istilah “fullstack developer” seringkali terdengar mengintimidasi. Sederhananya, apa itu fullstack developer? Mereka adalah pengembang yang memahami cara kerja aplikasi baik dari sisi tampilan (frontend) maupun sisi server (backend). Namun, pemahaman ini sering disalahartikan. Muncul gambaran sosok ‘manusia super’ yang menguasai segalanya. Pertanyaan yang sering muncul adalah, benarkah fullstack harus tahu segalanya? Mari kita urai apa sebenarnya peran mereka dan memisahkan mana yang mitos dan mana yang fakta.
Mari Kita Bedah: Mitos Populer Seputar Fullstack Developer
Ada banyak kesalahpahaman tentang peran ini. Memahami mitos vs fakta fullstack developer penting agar kita punya ekspektasi yang realistis, baik sebagai calon talenta atau sebagai perusahaan yang mencari talenta.
Mitos 1: Jago Frontend dan Backend dalam Waktu Bersamaan
Mitos paling umum adalah seorang fullstack pasti ahli di kedua sisi dengan level yang setara. Mereka dianggap sama jagonya mendesain interface yang cantik (frontend) sekaligus merancang arsitektur database yang rumit (backend).
Mitos 2: Bisa Bikin Aplikasi Sendirian dari A sampai Z
Banyak yang membayangkan seorang fullstack developer bisa menggantikan satu tim, membangun aplikasi kompleks sendirian dari awal hingga akhir. Mereka dianggap bisa menangani desain UI/UX, coding, database, hingga deployment ke server.
Mitos 3: Nggak Perlu Tim Lagi
Berkaitan dengan poin sebelumnya, ada anggapan jika sudah memiliki satu fullstack, perusahaan tidak lagi memerlukan spesialis frontend atau spesialis backend. Ini seringkali menjadi ekspektasi yang keliru.
Fakta Sebenarnya di Lapangan
Setelah melihat mitosnya, sekarang kita bahas realita fullstack developer di dunia kerja. Kenyataannya seringkali jauh lebih masuk akal dan manusiawi.
Fakta 1: Paham Konsep, Bukan Hafal Semua Syntax
Seorang fullstack tidak dituntut menghafal setiap syntax dari puluhan teknologi. Yang lebih penting adalah pemahaman mereka terhadap konsep. Mereka mengerti bagaimana sebuah aplikasi web bekerja, bagaimana data mengalir, dan bagaimana komponen-komponen berbeda saling berinteraksi.
Fakta 2: Kenalan dengan Konsep “T-Shaped Developer”
Ini adalah gambaran realita fullstack developer yang paling akurat. Konsep T-shaped developer menggambarkan seseorang yang memiliki pengetahuan luas di banyak area (garis horizontal pada huruf ‘T’), namun memiliki satu atau dua keahlian yang sangat mendalam (garis vertikal). Misalnya, ia tahu dasar-dasar database dan server, tapi keahlian utamanya ada di frontend (React atau Vue).
Fakta 3: Jagoan dalam “Menghubungkan Titik”
Kekuatan terbesar seorang fullstack adalah kemampuannya “menghubungkan titik-titik”. Mereka paham bagaimana interface (frontend) harus memanggil API (backend), dan bagaimana database harus merespons. Mereka adalah integrator yang baik.
Jadi, Apa yang Sebenarnya Diharapkan dari Seorang Fullstack?
Pada akhirnya, apa yang sebenarnya dicari perusahaan? Mereka adalah pemecah masalah (problem solver) yang memiliki gambaran besar. Perusahaan mengharapkan seseorang yang bisa bergerak fleksibel, membantu di sisi frontend saat dibutuhkan, lalu beralih ke backend untuk memperbaiki bug API. Mereka adalah “lem” yang seringkali membuat tim bekerja lebih efisien.
Kesimpulan: Fokus Jadi Problem Solver, Bukan ‘Kamus Berjalan’
Perdebatan mitos vs fakta fullstack developer seringkali berpusat pada keluasan teknis. Padahal, intinya bukan menjadi ‘kamus berjalan’ yang tahu segalanya. Benarkah fullstack harus tahu segalanya? Tentu tidak. Mereka adalah pembelajar cepat yang fokus pada pemecahan masalah dan mampu melihat bagaimana semua bagian teknologi bersatu padu.







