Serunya Jadi Fullstack: Panduan Membangun Proyek Web Pertama (Frontend + Backend)

Setelah memahami berbagai teori coding, ilmu tersebut baru benar-benar terasa manfaatnya saat kita gunakan untuk membuat sesuatu. Bagi seorang calon developer, membangun proyek web pertama adalah bukti nyata bahwa Anda bisa menghubungkan frontend dan backend.

Teori Cukup, Saatnya Praktik!

Membangun proyek fullstack pemula adalah cara terbaik untuk mengikat semua teori yang sudah Anda pelajari. Ini adalah momen di mana konsep database, API, dan tampilan UI bertemu. Selain itu, sebuah proyek yang selesai adalah aset berharga untuk portofolio fullstack Anda, yang seringkali jauh lebih bernilai daripada sekadar sertifikat kursus.

Ide Proyek Sederhana untuk Pemula

Kesalahan umum pemula adalah memilih ide yang terlalu rumit. Mulailah dari contoh proyek fullstack yang sederhana namun fungsional. Yang terpenting adalah alur datanya berjalan dari depan ke belakang.

Aplikasi To-Do List

Ini adalah proyek klasik. Anda akan belajar membuat fitur dasar Create, Read, Update, Delete (CRUD). Frontend-nya menampilkan daftar tugas, dan backend-nya menyimpan data tugas tersebut di database.

Blog Pribadi Sederhana

Mirip dengan to-do list, tapi fokusnya pada konten. Anda akan membuat sistem di backend untuk menyimpan artikel (judul, isi, tanggal), lalu menampilkannya di frontend untuk dibaca publik.

Aplikasi Catatan Resep

Anda bisa membuat aplikasi untuk menyimpan resep favorit. Frontend akan menampilkan gambar dan langkah-langkah, sementara backend mengelola data resep, mungkin termasuk bahan-bahan dan kategorinya.

Panduan Membangun Proyek

Mari kita ambil salah satu ide tadi, misalnya Blog Pribadi, sebagai studi kasus. Berikut adalah panduan proyek fullstack sederhana yang bisa Anda ikuti.

1. Persiapan: Desain Sederhana & Tentukan Fitur

Jangan langsung coding. Rencanakan dulu. Fitur apa yang paling penting? Untuk blog, minimal harus ada: (1) Halaman utama untuk menampilkan semua artikel, dan (2) Halaman detail untuk membaca satu artikel. Desainnya pun cukup sederhana saja, yang penting bersih dan fungsional.

2. Membangun Backend

Mulailah dari “dapur”. Buat database (misalnya MySQL atau MongoDB) dengan satu tabel untuk ‘posts’. Lalu, buat API (Application Programming Interface) menggunakan framework backend Anda (seperti Node.js/Express atau Laravel). Anda perlu minimal dua endpoint: satu untuk mengambil semua artikel, dan satu lagi untuk mengambil artikel berdasarkan ID-nya.

3. Membangun Frontend

Sekarang buat tampilannya. Gunakan framework frontend Anda (seperti React atau Vue, atau bahkan HTML/CSS/JS murni). Buat dua halaman sesuai rencana: halaman daftar artikel (yang akan menampilkan judul dan ringkasan) dan halaman detail artikel.

4. Menghubungkan Frontend dan Backend

Inilah inti dari proyek fullstack. Di kode frontend Anda, gunakan fitur (seperti ‘fetch’ atau ‘axios’) untuk “memanggil” API backend yang sudah Anda buat. Data yang didapat dari backend kemudian Anda tampilkan di halaman frontend yang sesuai.

Selamat! Proyek Fullstack Pertamamu Selesai!

Jika Anda berhasil menampilkan data dari database ke layar frontend, selamat! Anda telah menyelesaikan alur fullstack. Langkah selanjutnya adalah menyempurnakannya. Mungkin Anda bisa menambahkan fitur admin untuk menulis artikel baru (fungsi Create) atau fitur Update dan Delete.

Jangan Lupa: Deploy Proyekmu Biar Bisa Dipamerin!

Membangun proyek web pertama akan percuma jika hanya tersimpan di laptop Anda. Langkah terakhir yang krusial adalah melakukan deploy. Unggah proyek Anda ke layanan hosting (banyak yang gratis seperti Vercel untuk frontend dan Render untuk backend). Dengan begitu, Anda bisa mencantumkan link aktifnya di portofolio fullstack atau CV Anda.